Alhamdulillah ...
Akhirnya hari ini datang juga. Setelah melewati berbagai rasa dan peristiwa yang berliku, diselingi tawa, air mata tak jarang memunculkan adu argumen dan benturan-benturan kecil yang terjadi, kami sampai juga disini.
Akhir dari tugas panjang yang diamanahkan.
Congratulation for my Husband.
Yakin, segala perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran selama ini tidaklah sia-sia.
Barakallah ...
Semoga semuanya membawa keberkahan, kemanfaatan dan kemashlahatan baik untuk pribadi maupun untuk umat.
Yah ... meski tak dapat mendampingi di saat-saat berharga ini, yang pasti doa dan segala yang terbaik, senantiasa kupintakan untukmu, Suamiku
^_^ (hehe, paliiing isa :p)
Wednesday, August 19, 2009
Friday, July 24, 2009
Tak sekedar ...
Menikah, ternyata tak sekedar berubah status dari lajang menjadi berpredikat suami atau istri. Tapi disana ada tanggung jawab, kedewasaan, pengertian dan sebagainya.
Menjadi suami diperlukan kesadaran dan kebijaksanaan yang utuh menyeluruh akan wewenang yang dimilikinya sebagai seorang suami. Dalam rumah tangga, perkataan suami ibarat titah bagi seorang istri. Dimana mau tidak mau, suka nggak suka selama perintahnya itu tidak melanggar aturan Allah, harus dituruti, dijalankan dan ditunaikan oleh sang istri. Bahkan ketetapan suami ini tingkatannya berada diatas ketetapan orang tua. Bisa dikatakan, surga nerakanya seorang istri berada pada keridhoan suami.Begitu besarnya wewenang suami terhadap istri ini, sehingga para pemegangnya dituntut untuk memiliki kebijaksanaan yang menyamudra dan kedalaman pandangan serta keluasan fikir sehingga nantinya akan melahirkan kebijakan ataupun ketatapan suami yang mengandung mashlahat dan manfaat bagi keluarga dalam hal ini istri dan anak.
Sebagai istripun begitu juga. Perubahan status itu perlu penyesuaian. Bagaimana kita yang dulunya semau-mau sendiri, kini harus lebih menahan diri. Kalau mau kemana-mana izin dulu pada suami, meski saat itu suami tidak sedang bersama kita. Begitu pula proses transisi dari orang tua ke suami pun perlu penyesuaian yang kadang tidak mudah. Bagaimanapun orang tua telah membersamai kita selama puluhan tahun. Ketika tiba-tiba keberutamaan beliau berdua harus berpindah kepada seseorang yang baru beberapa saat hadir dalam kehidupan kita, rasanya cukup berat menyikapinya. Kadang kita masih lebih cenderung ke orangtua. Atau meski apa-apa sudah cerita ke suami, tapi tetap belum puas dan ada yang kurang kalo orang tua belum kebagian cerita. Ini sebenarnya wajar. Dan suamipun tak perlu merasa tidak dipercaya ketika untuk apa-apa istrinya masih cenderung ke orang tua. Semua hanya masalah waktu saja. Ya proses transisi itu tadi.
Semua memang tidak mudah. Yah namanya hidup berumah tangga kan anginnya nggak selalu sepoi-sepoi. Sekali dua kali pastilah terjadi benturan-benturan baik kecil ataupun besar. Saat-saat seperti itulah diuji ketangguhan dan kedewasaan keduanya. Bagaimana dalam situasi yang sulit, keduanya mampu menghadapi dengan bijaksana dan tanpa mengedepankan emosi.Gampangannya, kalo yang satunya sedang marah, yang lain jangan ikutan emosi. Begitu saran yang saya baca.
Yah itulah seninya hidup berumah tangga. Agak rumit tapi menarik dan penuh tantangan. Setiap saat ada hal baru yang kita dapatkan. Apapun itu, jalani semua dengan cinta, sabar dan syukur. Insya Allah semua kan terasa indah.
Catatan Purnama ke-7
Menjadi suami diperlukan kesadaran dan kebijaksanaan yang utuh menyeluruh akan wewenang yang dimilikinya sebagai seorang suami. Dalam rumah tangga, perkataan suami ibarat titah bagi seorang istri. Dimana mau tidak mau, suka nggak suka selama perintahnya itu tidak melanggar aturan Allah, harus dituruti, dijalankan dan ditunaikan oleh sang istri. Bahkan ketetapan suami ini tingkatannya berada diatas ketetapan orang tua. Bisa dikatakan, surga nerakanya seorang istri berada pada keridhoan suami.Begitu besarnya wewenang suami terhadap istri ini, sehingga para pemegangnya dituntut untuk memiliki kebijaksanaan yang menyamudra dan kedalaman pandangan serta keluasan fikir sehingga nantinya akan melahirkan kebijakan ataupun ketatapan suami yang mengandung mashlahat dan manfaat bagi keluarga dalam hal ini istri dan anak.
Sebagai istripun begitu juga. Perubahan status itu perlu penyesuaian. Bagaimana kita yang dulunya semau-mau sendiri, kini harus lebih menahan diri. Kalau mau kemana-mana izin dulu pada suami, meski saat itu suami tidak sedang bersama kita. Begitu pula proses transisi dari orang tua ke suami pun perlu penyesuaian yang kadang tidak mudah. Bagaimanapun orang tua telah membersamai kita selama puluhan tahun. Ketika tiba-tiba keberutamaan beliau berdua harus berpindah kepada seseorang yang baru beberapa saat hadir dalam kehidupan kita, rasanya cukup berat menyikapinya. Kadang kita masih lebih cenderung ke orangtua. Atau meski apa-apa sudah cerita ke suami, tapi tetap belum puas dan ada yang kurang kalo orang tua belum kebagian cerita. Ini sebenarnya wajar. Dan suamipun tak perlu merasa tidak dipercaya ketika untuk apa-apa istrinya masih cenderung ke orang tua. Semua hanya masalah waktu saja. Ya proses transisi itu tadi.
Semua memang tidak mudah. Yah namanya hidup berumah tangga kan anginnya nggak selalu sepoi-sepoi. Sekali dua kali pastilah terjadi benturan-benturan baik kecil ataupun besar. Saat-saat seperti itulah diuji ketangguhan dan kedewasaan keduanya. Bagaimana dalam situasi yang sulit, keduanya mampu menghadapi dengan bijaksana dan tanpa mengedepankan emosi.Gampangannya, kalo yang satunya sedang marah, yang lain jangan ikutan emosi. Begitu saran yang saya baca.
Yah itulah seninya hidup berumah tangga. Agak rumit tapi menarik dan penuh tantangan. Setiap saat ada hal baru yang kita dapatkan. Apapun itu, jalani semua dengan cinta, sabar dan syukur. Insya Allah semua kan terasa indah.
Catatan Purnama ke-7
Monday, January 12, 2009
Menyikapi Kesalahan
Setiap manusia
Di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui
Begitu sepenggal lirik lagu Sherina yang terkenal beberapa tahun lalu.
Memang, untuk mengakui kesalahan, dibutuhkan keberanian. Tak banyak yang bersedia dengan sukarela untuk menyatakan diri bersalah.
Karena pernyataan bersalah itu, akan memunculkan konsekuensi yang tak ringan. Mulai dari hilangnya kepercayaan, buruknya citra yang terbangun, umpatan dan cacian hingga ke sanksi-sanksi sosial lainnya.
Kebanyakan lebih memilih menghindar dan mencari jalan aman agar terlepas dari konsekuensi yang harus di tanggung. Tak jarang justru melimpahkan kesalahan kepala orang lain demi menyelamatkan diri sendiri. Sebuah sikap yang menurut saya sungguh sangat tidak bijaksana.
Dalam sebuah tim kerja, munculnya suatu masalah bukanlah kemustahilan bahkan sangat bisa jadi sekali, mengingat dalam satu tim tersebut berkumpullah orang-orang dengan karakter dan latar belakang yang berlainan. Tapi apapun masalahnya, (masih) menurut saya, bukanlah langkah yang bijak untuk mencari siapa yang salah.
Toh, dengan tahu siapa yang salah, tidak kemudian menyelesaikan permasalahan yang ada.
Kalaupun memang bukan kita yang bersalah, tak perlulah kemudian kita menunjuk orang lain sebagai biang kesalahan meski apa yang kita katakan adalah benar. Kita cukup ikut berpikir dan berusaha mencari jalan keluar alias pemecahan dari permasalahan yang dihadapi. Itu baru langkah yang bijak.
Sebuah pernyataan
“maaf, saya yang salah”,
bagi saya adalah pernyataan yang luar biasa dan hanya bisa diucapkan oleh orang yang luar biasa pula.
Disana terkandung sebuah keberanian untuk mengakui kesalahan, juga tersisip sikap bertanggung jawab dan siap menanggung segala konsekuensi terhadap kesalahan yang telah dibuatnya.
Sayangnya, sikap seperti ini belum banyak ditemui. Yang ada justru sikap saling menyalahkan dan mencari pembenaran masing-masing.
Berat memang untuk mengaku bersalah, mengingat besarnya konsekuensi dari pernyataan tersebut. Tapi kalo dipikir-pikir, berbagai konsekuensi yang harus ditanggung tersebut, tidaklah seberapa dibandingkan dengan beban moral dan rasa bersalah yang kan selalu menghantui saat kita lari dan menghindar dari kesalahan yang kita perbuat..
Wallahu a’lam
Di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui
Begitu sepenggal lirik lagu Sherina yang terkenal beberapa tahun lalu.
Memang, untuk mengakui kesalahan, dibutuhkan keberanian. Tak banyak yang bersedia dengan sukarela untuk menyatakan diri bersalah.
Karena pernyataan bersalah itu, akan memunculkan konsekuensi yang tak ringan. Mulai dari hilangnya kepercayaan, buruknya citra yang terbangun, umpatan dan cacian hingga ke sanksi-sanksi sosial lainnya.
Kebanyakan lebih memilih menghindar dan mencari jalan aman agar terlepas dari konsekuensi yang harus di tanggung. Tak jarang justru melimpahkan kesalahan kepala orang lain demi menyelamatkan diri sendiri. Sebuah sikap yang menurut saya sungguh sangat tidak bijaksana.
Dalam sebuah tim kerja, munculnya suatu masalah bukanlah kemustahilan bahkan sangat bisa jadi sekali, mengingat dalam satu tim tersebut berkumpullah orang-orang dengan karakter dan latar belakang yang berlainan. Tapi apapun masalahnya, (masih) menurut saya, bukanlah langkah yang bijak untuk mencari siapa yang salah.
Toh, dengan tahu siapa yang salah, tidak kemudian menyelesaikan permasalahan yang ada.
Kalaupun memang bukan kita yang bersalah, tak perlulah kemudian kita menunjuk orang lain sebagai biang kesalahan meski apa yang kita katakan adalah benar. Kita cukup ikut berpikir dan berusaha mencari jalan keluar alias pemecahan dari permasalahan yang dihadapi. Itu baru langkah yang bijak.
Sebuah pernyataan
“maaf, saya yang salah”,
bagi saya adalah pernyataan yang luar biasa dan hanya bisa diucapkan oleh orang yang luar biasa pula.
Disana terkandung sebuah keberanian untuk mengakui kesalahan, juga tersisip sikap bertanggung jawab dan siap menanggung segala konsekuensi terhadap kesalahan yang telah dibuatnya.
Sayangnya, sikap seperti ini belum banyak ditemui. Yang ada justru sikap saling menyalahkan dan mencari pembenaran masing-masing.
Berat memang untuk mengaku bersalah, mengingat besarnya konsekuensi dari pernyataan tersebut. Tapi kalo dipikir-pikir, berbagai konsekuensi yang harus ditanggung tersebut, tidaklah seberapa dibandingkan dengan beban moral dan rasa bersalah yang kan selalu menghantui saat kita lari dan menghindar dari kesalahan yang kita perbuat..
Wallahu a’lam
Wednesday, January 07, 2009
Do'a dari Sahabat
Sebuah Do’a Telah Terjawab, Rahasia Besar telah terkuak
Suatu perjumpaan awal membawamu pada sebuah aqad
Kerja keras, doa dan air mata mengiringi penantian yang panjang
Waktunya telah tiba panjatkan doa kepadaNya
Lepas sudah beban berat yang begitu melelahkan
Sebuah aqad telah terucap, transaksi suci telah terikrar
Mohonlah kepadaNya sebuah keluarga sakinah mawaddah wa rohmah
Layar tlah dikembangkan perahu siap berlayar
Mengarungi samudera kehidupan bersiaplah hadapi ombak
Laut tak selamanya ramah
Hidup tak selamanya nyaman
Tegarkanlah hati saat cobaan menerpa
Bersyukurlah atas apa-apa yang telah Allah berikan
Mungkin akan ada kerikil, manakala kita berjalan
Ingatlah cita-cita, harapan dan tujuan semula saat badai datang menerpa
Barokallahu laka wabaroka’alayka wajama’a baynakuma fii khairin
Aamiin
Terima kasih atas segala do'a dan dukungan
Suatu perjumpaan awal membawamu pada sebuah aqad
Kerja keras, doa dan air mata mengiringi penantian yang panjang
Waktunya telah tiba panjatkan doa kepadaNya
Lepas sudah beban berat yang begitu melelahkan
Sebuah aqad telah terucap, transaksi suci telah terikrar
Mohonlah kepadaNya sebuah keluarga sakinah mawaddah wa rohmah
Layar tlah dikembangkan perahu siap berlayar
Mengarungi samudera kehidupan bersiaplah hadapi ombak
Laut tak selamanya ramah
Hidup tak selamanya nyaman
Tegarkanlah hati saat cobaan menerpa
Bersyukurlah atas apa-apa yang telah Allah berikan
Mungkin akan ada kerikil, manakala kita berjalan
Ingatlah cita-cita, harapan dan tujuan semula saat badai datang menerpa
Barokallahu laka wabaroka’alayka wajama’a baynakuma fii khairin
Aamiin
Terima kasih atas segala do'a dan dukungan
Monday, December 01, 2008
Catatan Hati, Dunia Kecilku
"Inget ya, bagi seorang lelaki, meskipun telah menikah, maka yang harus diutamakan tetaplah ibu. Beda dengan wanita."
Begitu nasehat tante saya kepada ade'nya yang hendak menikah beberapa tahun lalu. Mungkin ada sedikit kekhawatiran yang dirasakan oleh tante saya. Takut kalau sang adik lebih mengutamakan istri daripada ibunya.
Dan akhir-akhir ini kata-kata itu terngiang di kepala saya.
Ya, saya harus inget benar-benar hal itu.
Bahwa Ibu, tetaplah yang utama bagi suami kita. Jadi sebagai seorang istri, kita harus pandai-pandai menempatkan diri.
Menjaga agar sang suami tidak salah memposisikan antara istri dan ibu.
Sebuah amanah yang tidak ringan.
Semoga nantinya, Allah memberikan hikmah, kesabaran dan kekuatan untuk menjalankan amanah ini.
Aamiin.
Bismillah ... tawakkaltu'alallah
Begitu nasehat tante saya kepada ade'nya yang hendak menikah beberapa tahun lalu. Mungkin ada sedikit kekhawatiran yang dirasakan oleh tante saya. Takut kalau sang adik lebih mengutamakan istri daripada ibunya.
Dan akhir-akhir ini kata-kata itu terngiang di kepala saya.
Ya, saya harus inget benar-benar hal itu.
Bahwa Ibu, tetaplah yang utama bagi suami kita. Jadi sebagai seorang istri, kita harus pandai-pandai menempatkan diri.
Menjaga agar sang suami tidak salah memposisikan antara istri dan ibu.
Sebuah amanah yang tidak ringan.
Semoga nantinya, Allah memberikan hikmah, kesabaran dan kekuatan untuk menjalankan amanah ini.
Aamiin.
Bismillah ... tawakkaltu'alallah
Kesetiaan
"Jangan berpikir, bahwa suami yang setia itu adalah mereka yang tidak pernah tertarik dengan wanita lain. Tapi suami yang setia adalah mereka yang ketika tertarik dengan seorang wanita yang bukan istrinya, maka ia akan berlalu dan ber segera menemui istrinya. Ia tahu dan sadar kemana harus melabuhkan inginnya".
Begitu kira-kira yang dikatakan Ust. Salim dalam salah satu acara yang saya ikuti sekitar beberapa tahun lalu.
Kenapa sampai saat ini masih saya ingat ??? karena pernyataan itu cukup mengagetkan saya.
Selama ini saya berpikir bahwa proses tertarik dan senang dengan lawan jenis ini akan berhenti setelah kita menikah. Tapi ternyata tidak.
Dan pernyataan itupun menambah wawasan saya, memberikan pandangan yang berbeda dalam memaknai arti kesetiaan.
Beberapa purnama di kota ini, sepertinya telah membuat cara berpikir saya sedikit berubah. Entahlah, mungkin sedikit apatis.
Apa yang saya dengar, lihat, dan rasakan, sedikit membuka cakrawala saya.
Inilah sisi lain dari dunia kecil yang saya kenal. Dunia kecil yang begitu jujur, nyaman, damai, tiada ambisi, dan tanpa kepura-puraan.
Kota ini tlah mengaburkan eksistensi kesetiaan. Gempuran berita tentang perselingkuhan, fenomena yang terjadi di lapangan, semakin memperkuat asumsi langkanya sebuah kesetiaan.
Apakah benar tiada lagi kesetiaan ???
Entahlah, tapi tak bijak rasanya men-generalisir suatu hal hanya karena satu-dua kasus saja.
Yakinlah kesetiaan itu masih ada.
Ya ... Masih, akan dan selalu ada.
Sebagaimana cinta, keberadaan setia akan selalu ada.
Saat Allah menciptakan cinta, Allah tlah menciptakan pula setia.
Setia akan selalu menemani cinta.
Kesetiaan akan menghiasi mereka yang hatinya dipenuhi cinta.
Cinta yang bukan sekedar cinta.
Tapi cinta dari Muara cinta.
Cinta kepada Sang Pemberi cinta dan cinta dari Sang Pemberi cinta.
Insya Allah ...
:semoga cinta dan kesetiaan itu senantiasa menghiasi hati-hati kami.
Aamiin
Begitu kira-kira yang dikatakan Ust. Salim dalam salah satu acara yang saya ikuti sekitar beberapa tahun lalu.
Kenapa sampai saat ini masih saya ingat ??? karena pernyataan itu cukup mengagetkan saya.
Selama ini saya berpikir bahwa proses tertarik dan senang dengan lawan jenis ini akan berhenti setelah kita menikah. Tapi ternyata tidak.
Dan pernyataan itupun menambah wawasan saya, memberikan pandangan yang berbeda dalam memaknai arti kesetiaan.
Beberapa purnama di kota ini, sepertinya telah membuat cara berpikir saya sedikit berubah. Entahlah, mungkin sedikit apatis.
Apa yang saya dengar, lihat, dan rasakan, sedikit membuka cakrawala saya.
Inilah sisi lain dari dunia kecil yang saya kenal. Dunia kecil yang begitu jujur, nyaman, damai, tiada ambisi, dan tanpa kepura-puraan.
Kota ini tlah mengaburkan eksistensi kesetiaan. Gempuran berita tentang perselingkuhan, fenomena yang terjadi di lapangan, semakin memperkuat asumsi langkanya sebuah kesetiaan.
Apakah benar tiada lagi kesetiaan ???
Entahlah, tapi tak bijak rasanya men-generalisir suatu hal hanya karena satu-dua kasus saja.
Yakinlah kesetiaan itu masih ada.
Ya ... Masih, akan dan selalu ada.
Sebagaimana cinta, keberadaan setia akan selalu ada.
Saat Allah menciptakan cinta, Allah tlah menciptakan pula setia.
Setia akan selalu menemani cinta.
Kesetiaan akan menghiasi mereka yang hatinya dipenuhi cinta.
Cinta yang bukan sekedar cinta.
Tapi cinta dari Muara cinta.
Cinta kepada Sang Pemberi cinta dan cinta dari Sang Pemberi cinta.
Insya Allah ...
:semoga cinta dan kesetiaan itu senantiasa menghiasi hati-hati kami.
Aamiin
Wednesday, November 26, 2008
Semua kan indah pada waktunya
Kepompong itu bergerak perlahan. Membuka sedikit demi sedikit. Seekor makhluk baru tlah menjelma. Kupu-kupu nan cantik sayapnya. Tampak kepayahan, ia mencoba keluar dari rumah kepompong yang selama ini dihuninya.
Terkadang rasa iba menggoda kita untuk sedikit memberikan pertolongan kepadanya. Membantunya membukakan sayap rapuhnya, Saat akhirnya kita berhasil membantu perjuangan sang kupu-kupu membuka kedua sayapnya, kitapun tersenyum lega sambil menantikan saat-saat pertama kali kupu-kupu itu terbang.
Namun ternyata, kita takkan pernah melihat kupu-kupu itu terbang, karena sisi sayap yang telah kita bantu tadi tiba-tiba menyusut, sehingga kupu-kupu itu tidak bias terbang dan akhirnya mati.
Begitulah, setiap fase memerlukan proses, dan prose itu selalu membutuhkan waktu. Kadang cepat, kadang juga tidak sebentar. Saat kemudian prose situ “dipaksa” untuk berjalan cepat terkadang hasilnya justru berkebalikan dengan harapan kita.
Jadi teringat nasihat dari sahabat, saudara dan ”soulmate” saya (begitu temen-temen kantor membahasakan bagi orang yang dah cocok dan klop satu sama lain), yang setiap saat didengung-dengungkannya.
”semua kan menjadi indah pada waktunya ... ”
Ya ... semua kan indah pada waktunya
:cerita dari saudara saya, dengan modifikasi di sana sini
Jazakillah atas semuanya ya mah ...
Terkadang rasa iba menggoda kita untuk sedikit memberikan pertolongan kepadanya. Membantunya membukakan sayap rapuhnya, Saat akhirnya kita berhasil membantu perjuangan sang kupu-kupu membuka kedua sayapnya, kitapun tersenyum lega sambil menantikan saat-saat pertama kali kupu-kupu itu terbang.
Namun ternyata, kita takkan pernah melihat kupu-kupu itu terbang, karena sisi sayap yang telah kita bantu tadi tiba-tiba menyusut, sehingga kupu-kupu itu tidak bias terbang dan akhirnya mati.
Begitulah, setiap fase memerlukan proses, dan prose itu selalu membutuhkan waktu. Kadang cepat, kadang juga tidak sebentar. Saat kemudian prose situ “dipaksa” untuk berjalan cepat terkadang hasilnya justru berkebalikan dengan harapan kita.
Jadi teringat nasihat dari sahabat, saudara dan ”soulmate” saya (begitu temen-temen kantor membahasakan bagi orang yang dah cocok dan klop satu sama lain), yang setiap saat didengung-dengungkannya.
”semua kan menjadi indah pada waktunya ... ”
Ya ... semua kan indah pada waktunya
:cerita dari saudara saya, dengan modifikasi di sana sini
Jazakillah atas semuanya ya mah ...
Subscribe to:
Posts (Atom)