Mimpiku ...

Menjadi apa adanya diriku ... Memberi yang terbaik dan terindah Tuk mereka yang tercinta

Friday, September 19, 2008

Tembok Karakter

Memang, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
Selama hidup kita, secara perlahan dan tanpa sadar kita tlah membangun sebuah tembok karakter dalam diri kita. Tembok yang semakin lama semakin tinggi dan semakin kokoh.
Suatu ketika, bisa jadi, kita menyadari bahwa ternyata, salah satu tembok yang kita bangun tersebut berdiri di koordinat yang salah. Sehingga keberadaannya akan menghalangi gerak maju dan tumbuh kembang kita.
Adalah sebuah pilihan, untuk membiarkannya atau meruntuhkannya.
Masing-masingnya memiliki konsekuensi.
Saat memutuskan untuk meruntuhkannya, maka ia tak semudah yang dibayangkan.
Harus ada kekuatan tekad dari dalam diri juga dukungan dari lingkungan sekitar.
Dalam benak saya, sepertinya perlu juga sebuah momentum besar yang dahsyat yang bisa mengubah haluan. Semacam dinamit yang mampu meruntuhkan tembok karakter tersebut.
Berat memang, tapi bukan tidak mungkin.
Lagi-lagi semua butuh proses.
Yang pasti, tembok itu hanya bisa diruntuhkan oleh diri kita sendiri, bukan orang lain.
Seperti kata temen saya siang ini,
" ... Tembok itu kita sendiri yang mengadakan, kita sendiri yang membangun, maka kita sendirilah yang harus meruntuhkannya ...".



:Ly, saling menguatkan ya ...

Wednesday, August 27, 2008

Sahabat

Sahabat, adalah anugrah. Terlepasnya satu diantara mereka, menyisakan sebuah ruang kosong diantara susunan puzzle kita.
Sore itu menjelang senja, ada kelegaan mengalir saat Alif memanggil, menyampaikan salam dari sahabat yang dua purnama ini menjejakkan rongga di ruang puzzleku.
Alhamdulillah ... kekhawatiran itu hanya menjadi sebatas kekhawatiran, karena susunan puzzleku tlah kembali seperti semula.
Yah ..., meski masih ada ruang kosong di tengahnya, namun untuk saat ini, cukuplah seperti ini.
Alhamdulillah


:Fee
Semoga Allah memudahkan segala sesuatunya
Aamiin

Thursday, August 21, 2008

Alhamdulillah ^_^

Hanya ingin berbagi kebahagiaan.
Barusan ada sms dari ade'.
"Attention !!! Dbritahukn bhwa, mlai sore ini qta pnya kponakn baruuu...!!! The next Aiko tlah lhir..td jam3..laki2..brat:3 kg..lhir dg skses&bbas hambtan..,haha :)".
(Sebelumnya, Bapak juga telpon. Sesudahnya, kakak ipar saya yang telpon.)
Saya tersenyum membacanya. Ada kebahagiaan tersirat dari sms itu.
Tak kurang juga saya berucap syukur.
Sejak Ahad sore saya sudah memantau perkembangan. Hampir setiap hari nelpon buat nanyain, "dah lahiran belom ???".
Alhamdulillah ... Alhamdulillah ...
Terakhir saya pulang, saya lihat mbak saya sudah lebih matang dalam menjalani perannya sebagai ibu (halah, sok tahunya muncul). Tapi emang kok, jadi lebih tenang dan lebih sabar.
Dulu saya yang paling semangat membela hak-haknya si Koko, sering complain (kok begini, begitu, dst) plus nyindir-nyindir ringan sambil bercanda. Sampai pernah menyarankan untuk melihat "Nanny 911" di Metro TV setiap Sabtu-Ahad jam 16.00 (acaranya tuh bagus banget deh. Recommended buat orang tua maupun calon orang tua).
Namun kemarin setelah pulang dan melihat semakin keibuannya mbak saya, saya jadi nyadar, bahwa menjadi orang tua pun adalah sebuah proses. Wajar jika di awal saat punya anak pertama masih banyak kekurangan. Karena memang menjadi ayah dan ibu adalah sebuah hal baru yang belum pernah dialami. Seiring waktu, pasti ada banyak hal yang dipelajari yang semakin mengasah ketrampilan dalam mendidik dan mengasuh anak. Jadi, semakin banyak anak, (harusnya) semakin terlatih dalam menjalankan peran sebagai orangtua.

Hmmm, jadi ga sabar pengen lihat dede kecil.
Waaahhh jadi Aunty lagi, Cenengna ... ^_^
Alhamdulillah ...

Monday, July 28, 2008

Cerita dari Bulungan

Kemarin habis dari Bulungan. Ada acara dengan tema mengenang Alm. Ust. Rahmat.
Pertama menginjakkan kaki di ruangan, langsung disambut dengan foto dan petuah-petuah beliau yang terpampang di dinding yang mengelilingi ruang depan. Ada aura yang berbeda saat mencermati foto-foto itu satu demi satu. Ada rindu bercampur haru. Hingga di salah satu sudut saya terpaku. Pada satu bingkai dengan untaian kalimat yang membuat jantung berdesir.
Sayapun mengabadikan kalimat itu dan membingkainya di Bingkai Kehidupan. Sebuah kalimat sederhana yang, entah, terasa begitu mendalam bagi saya.
Setelah itu ikut seminar tentang peran muslimah. Narasumbernya Bu Ledya dan Bu wiwi. Subhanallah, sebagaian besar pertanyaan saya yang telah mengendap sekian lama, yang saya cari-cari jawabannya namun belum juga mendapatkan jawaban yang memuaskan, akhirnya terjawab sore itu. Bagus banget isinya, baik bagi yang belum menikah, sudah menikah bahkan untuk bapak mapun calon bapak. Untung sempat saya rekam. Kapan-kapan saya share deh. Manual aja, soale ga tahu gimana nge-share dalam bentuk audio (gaptek banget yo ...).
Nah setelah itu, nonton film Sang Murobbi. Tayang perdana nih.
Sederhana, bersahaja. Itu yang tertangkap dari sosok beliau yang divisualisasikan di film itu.
Ada rasa malu menyusup. Entah dari mana datangnya. Hanya saja saya merasa, masa belajar yang sudah sekian lama, belum memberikan atsar yang nyata dalam diri saya.
Hfff betapa meruginya.
Hari itu saya merasa "penuh".
Penuh asupan ilmu, penuh pencerahan, penuh hikmah, penuh tekad dan semangat untuk menjadi lebih baik lagi.

Subhanallah ... walhamdulillah ...

NB : eh iya, pas nunggu temen mau pulang, sempet ketemu Pak Tifa secara langsung, hehe ...

Sunday, July 20, 2008

Catatan Pinggir Lapangan

Bagaimanapun yang namanya pendukung di luar lapangan tuh lebih enak daripada jadi pemain yang bermain di lapangan.
Lihat bulutangkis misalnya. Kitanya yang cuman nonton dah heboh teriak-teriak, padahal pemainnya mah cool-cool aja. Bahkan tak jarang sambil menyalahkan,
"Wah mbaknya gimana sih, sering banget buat kesalahan sendiri."
Begitupula lihat sepakbola. Pernah kan waktu masih di tempat bulik, bareng-bareng lihat The Jack lawan mana, saya lupa. Ceritanya nih agak terpaksa, lha pada seneng itu, jadi mau ga mau ikutan nonton. Eeee, yang katanya nonton dengan terpaksa itu, malah ribut sendiri, tiap mo gol saya dan bulik langsung heboh. Padahal om sama sepupu, kalem aja nontonnya. Ga sampe situ, kadang kita (para wanita ini) juga sok tahu banget, ngasih-ngasih saran.
"Wah itu harusnya ada yang jagain tuh, masa lini belakang dibiarin kosong".
"Gimana sih, nendang gitu aja ga bisa"
Pokoknya komentar macem-macem deh.
Sampe sepupu saya komentar, karena sebel kali ya "apaan sih ni, pada sotoy banget"
hehehe. Saya sama bulik cuek aja.
Yah begitulah ulah para pendukung. Padahal, pendukung kalo di suruh main langsung di lapangan belum tentu bisa.
Dalam konteks lain, saya pernah berada "di luar lapangan" dan "di dalam lapangan" meski masih di pinggirannya.
Saat masih di luar lapangan, saya menyikapi berbagai hal yang terjadi di dalam "lapangan" dengan sikap yang sedikit apatis. Menganggap orang-orang "di dalam lapangan" hanya berbuat semaunya sendiri, tanpa mau mempertimbangkan suara dan teriakan dari "luar lapangan".
Tapi setelah beberapa lama berada "di pinggir lapangan ini" saya mendapat sudut pandang yang berbeda dalam melihat apa-apa yang dilakukan orang-orang di dalam lapangan. Saya sedikit-sedikit tahu kenapa orang-orang di dalam lapangan bertingkah begini dan begitu. Jadi tahu duduk permasalahannya.
Misalnya saja, yang baru-baru ini terjadi, saat kata "naik" sering terdengar. Dulu, saat masih di "luar lapangan", saya sebel tiap keputusan untuk "naik" ini diambil. Dalam benak saya saat itu, jika ada kata "naik", itu artinya akan ada banyak orang yang kan semakin menderita. Dan saat itu, saya ga terlalu tertarik dengan alasan, sebab ataupun akar permasalahan kenapa kemudian kata "naik" harus diambil. Yang saya tangkap hanyalah pemain dalam lapangan ga peduli dengan pendukung di luar lapangan.
Setelah berada di pinggir lapangan, ya, memang masih kurang setuju dengan keputusan yang diambil, bedanya, sekarang saya lebih tahu duduk perkaranya, serta kondisi di lapangan yang sedang terjadi. Jadinya ya gimana lagi, memang sedang sulit posisinya. Dilematis.
Agak rumit juga sih transisi dari "luar" ke "dalam" ini. Kadang terasa aneh. Secara lahir sudah di dalam lapangan, tapi batin, pikaran, dan idealisme masih di "luar". Jadi sering banget terjadi benturan. Tapi bagaimanapun saya tetap harus bertahan di tengah kerumitan ini, karena memang masih banyak hal yang harus saya pelajari di sini.
Untung ada teman seangkatan dan sama-sama pernah merasakan berada di luar lapangan. Jadi yah ada yang bisa diajak ngobrol.
Dari obrolan-obrolan itulah, saya sering menemukan "sesuatu". Misalnya saja, saya jadi menyadari, bahwa terkadang suara-suara yang dulu sering kami suarakan dari luar lapangan, masih bersifat praktis.
Misal di tahun 98-04 dulu. Saat kata "turun !" seringkali terdengar. Memang sih, itu aspirasi, cuma kalo dipikir lagi, kalo udah turun trus seperti apa ??? Kadang tuh yang usul masih terbatas pada "turun" itu thok. Setelah bener-bener turun, ya udah, selesai. Seolah "turun" itulah tujuan akhirnya. Habis itu, tinggal pemain dilapangan yang sibuk mengeksekusi kelanjutan prosesnya.
Tapi ya memang tidak bisa menuntut lebih kepada pendukung di luar lapangan, karena memang para pemainlah yang mempunyai chance lebih besar untuk menajdikan kondisi di lapangan lebih baik lagi.
Bagaimanapun semua sudah ada job deskripsinya masing-masing. Dan tiap-tiap elemen itu tetap diperlukan kontribusinya dalam rangka bersama-sama meraih apa yang tengah dicita-citakan.
Pendukung tanpa pemain nggak akan bisa memenangkan pertandingan, pemain tanpa pendukung hanya akan bermain asal-asalan tanpa semangat dan tak tentu arah. Dengan teriakan dan sorak sorai dari pendukunglah, pemain jadi terpacu semangatnya dan akhirnya berusaha untuk bertanding dengan sebaik-baiknya.
Hffff, nggak jelas ya.
Gapapa, hanya sekedar ingin menuliskan apa yang ada di kepala saja.
Semoga bermanfaat.

Tuesday, July 15, 2008

Demam Janji Suci

Yovie n the Nuno

Dengarkanlah wanita pujaanku
malam ini akan kusampaikan
hasrat suci, kepadamu Dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini

**
Aku ingin mempersuntingmu
tuk yang pertama ...
dan terakhir ...

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci
Satu untuk selamanya ...
dengarkanlah kesungguhan ini

Back to **

Di ruangan, lagi demam ma lagu ini.
Lucunya, yang suka malah beliau-beliau yang sudah separuh baya.
Kasubag saya yang Kangen Band mania, sepanjang hari ini menyenandungkan (atau menggumamkan ^_^) lagu itu.
Ibu yang duduk tepat di depan saya, yang 11 Januari banget, pagi ini juga asyik bersenandung lagu ini.
Ibu Kasubag di belakang saya, pas pertama denger lagu ini berkomentar "bagus ya lagunya".
Hmmm, mungkin nih ya, dalam hati mereka komentar.
"Coba lagu ini ada pas jaman kita muda dulu ya ..."
Hehehe, nggak ding, itu bisa-bisanya erni aja.
Iya, emang lagi kurang kerjaan.

Monday, July 14, 2008

Kebiasaan Burukku

Lagi sedikit kecewa pada diri sendiri. Kenapa ya sifat ceroboh ini ga ilang-ilang. Perasaan dah berusaha untuk teliti dan setiti, berulang kali di cek, dicermati satu persatu tapi tetep aja ada yang lolos.
Padahal, kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal !!!
Mungkin ini salah satu ibroh kenapa saya ditempatkan di bagian ini.
Harus sabar erni. Ga boleh grusa-grusu. Cek dulu pelan-pelan, kalo perlu huruf demi huruf, angka demi angka.
Yah, semoga bisa sedikit demi sedikit mengikis sifat ceroboh dan teledor saya.
Aamiin
Bismillah ...

Btw,ada ga ya cara yang efektif untuk menghilangkan ato paling nggak mengurangi sifat ceroboh ini?

?????