Mimpiku ...

Menjadi apa adanya diriku ... Memberi yang terbaik dan terindah Tuk mereka yang tercinta

Tuesday, July 15, 2008

Demam Janji Suci

Yovie n the Nuno

Dengarkanlah wanita pujaanku
malam ini akan kusampaikan
hasrat suci, kepadamu Dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini

**
Aku ingin mempersuntingmu
tuk yang pertama ...
dan terakhir ...

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci
Satu untuk selamanya ...
dengarkanlah kesungguhan ini

Back to **

Di ruangan, lagi demam ma lagu ini.
Lucunya, yang suka malah beliau-beliau yang sudah separuh baya.
Kasubag saya yang Kangen Band mania, sepanjang hari ini menyenandungkan (atau menggumamkan ^_^) lagu itu.
Ibu yang duduk tepat di depan saya, yang 11 Januari banget, pagi ini juga asyik bersenandung lagu ini.
Ibu Kasubag di belakang saya, pas pertama denger lagu ini berkomentar "bagus ya lagunya".
Hmmm, mungkin nih ya, dalam hati mereka komentar.
"Coba lagu ini ada pas jaman kita muda dulu ya ..."
Hehehe, nggak ding, itu bisa-bisanya erni aja.
Iya, emang lagi kurang kerjaan.

Monday, July 14, 2008

Kebiasaan Burukku

Lagi sedikit kecewa pada diri sendiri. Kenapa ya sifat ceroboh ini ga ilang-ilang. Perasaan dah berusaha untuk teliti dan setiti, berulang kali di cek, dicermati satu persatu tapi tetep aja ada yang lolos.
Padahal, kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal !!!
Mungkin ini salah satu ibroh kenapa saya ditempatkan di bagian ini.
Harus sabar erni. Ga boleh grusa-grusu. Cek dulu pelan-pelan, kalo perlu huruf demi huruf, angka demi angka.
Yah, semoga bisa sedikit demi sedikit mengikis sifat ceroboh dan teledor saya.
Aamiin
Bismillah ...

Btw,ada ga ya cara yang efektif untuk menghilangkan ato paling nggak mengurangi sifat ceroboh ini?

?????

Amanah

Pelajaran minggu lalu.
Esensi dari suatu pekerjaan, bukan terletak pada berat ringannya, bukan pula pada sulit mudahnya, juga bukan masalah penting atau remeh temehnya.
Tapi hakikat dari kerja adalah amanah.
Sebuah kerja, seremeh apapun tampaknya itu, tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Orang boleh memandang dengan sebelah mata.
Tapi yang namanya amanah tetap harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggungjawab.
So, nikmati apapun pekerjaanmu dan jalani dengan sepenuh hati
Smangat !!!

Sunday, July 06, 2008

Kangen

Akhir pekan seperti ini biasanya muncul penyakit orang rantau, Homesick !!!
Kalo dah gitu jadi inget ma teriakan angsa yang heboh di pekarangan belakang rumah, menunggu senja sambil bercengkrama di halaman rumah bareng keluarga, menyambut pagi dengan menikmati hidangan segelas teh manis dan pisang goreng, atau sarapan nasi goreng buatan ibu bareng mbak n ade (Alamaaak jadi tambah pengen pulang nih). Yah, beginilah resiko jadi satu-satunya anak yang merantau. Saat akhir pekan semua anggota keluarga berkumpul, kita sendiri yang ga ada. Hiks ... T_T. Tapi gapapa. Harus tetep bertahan !!! Lagian ini juga buat melatih kemandirian, dan kedewasaan kok. Kalo ga gini, mungkin ga segera mandiri 'n dewasa. Moga aja bisa jadi bener-bener mandiri dan dewasa, aamiin.
Jadi sadar, bagaimanapun tanah tempat kelahiran bener-bener ga akan tergantikan.
Mbok mo dibilang gersang dan tandus, tapi bagiku tetep yang paling sejuk.
Dibilang pedalaman, tapi tetep yang paling nyaman.
Keinget pas masih sering berkendara menjelajah alamnya. Rasanya pengen mengulang lagi.
Merasakan terpaan angin lembahnya, mengagumi barisan bukit seribu yang menghiasinya, menyelami kelengangan yang mengiringi padang ilalang dan belantaranya. Hmmm, bener-bener bikin jatuh cinta deh. Narsis ya ??? emang, sengaja :p
Selain lautnya yang indahnya Subhanallah ... (Ga percaya ???, buktikan di sini, detailnya bisa lihat di sini), yang juga bikin kangen adalah suasananya.
Kebayang jelas satu tempat yang dulu sering jadi tempat 'ngadem' jika jogja dan rumah dah terasa 'gerah'.
Sebuah rumah sederhana di tempat sederhana. Yang jauhnya 35km dari rumah, yang untuk menjangkaunya harus melewati jalan bebatuan sejauh 1,5 km, yang untuk mencapai angkutan umum harus berjalan 15 menit, yang tiap kemarau masih harus membeli tangki air seharga 70 ribu tiap 10 harinya, yang suara motor jarang sekali terdengar, yang lenguh sapi dan kokok ayam dapat terdengar sepanjang hari, yang paginya berselimut kabut dengan tetes embun yang terdengar jelas.
Disanalah biasanya saya (dan ternyata ade juga) menepi, merefresh diri dari segala yang menyesakkan.
Kalo dah di tempat itu rasanya seperti di dunia lain. Terjauh dari hiruk pikuk dunia luar yang tengah ramai demo BBM, atau kisruh krisis energi dan pangan dunia yang semakin parah, meskipun imbasnya, terasa juga sampai sana.
Kehidupan disana adalah rumah, sawah, cari makan buat ternak, kelompok tani dengan tetangga dan seputar itu. Kehidupan sederhana dengan orang-orang yang juga sederhana.
Hfff, jadi kangen kesana lagi. Tempat yang begitu tenang. Tempat nenek saya menjalani hari-hari di masa tuanya.
Semoga masih diberi kesempatan untuk mengurai rindu dan merasai semuanya.



Sepenuh cinta&rindu
:luv u grandma

Tuesday, July 01, 2008

Duri dan Mimpi buruk

Hari ini aku belajar, bahwa dalam persahabatan, kita tak selamanya harus membungkusnya dengan ruahan kata cinta, juga tak perlu selalu menghiasinya dengan indah warna warni pelangi.
Ada saatnya, kita harus menjadi duri bagi sahabat kita. Duri yang tersebar di sepanjang jalan yang dilaluinya, kala kita tahu jalan itu berbahaya untuk dilewati.
Atau kita harus menjadi mempi buruk yang membuatnya terjaga, jika memang tidur tlah mulai melenakannya.
Mungkin akan terasa pahit dan menyakitkan. Bagi sahabat kita, pun bagi kita.
Butuh keberanian untuk menjadi duri ataupun mimpi buruk, karena memang tak banyak yang bisa tenang menerima suatu mimpi buruk, begitu juga jarang ada yang tersenyum saat tertusuk duri.
Namun bagaimanapun, setiap sahabat selalu menginginkan yang terbaik bagi sahabatnya. Tak ada sahabat yang rela jika sahabatnya tenggelam dalam angan yang melenakan.
Ya ... apapun reaksinya, semua bergantung dari niat. Jika niatnya tulus untuk kebaikan sahabat kita, maka yakin, semua takkan sia-sia.


2838
:fee
maaf jika tlah menjadi duri dan mimpi buruk bagi harimu

Indahnya ukhuwah

Ukhuwah memang tak mengenal ruang dan waktu.
Siang itu, kulangkahkan kaki di bawah terik, menuju suatu tempat yang belum pernah kusinggahi. Tempat yang hanya pernah kudengar namanya, namun disana tengah menunggu seorang sahabat.
Tiba di pembehentian terakhir, Alif mengabarkan kedatanganku.
”Tunggu 10 menit ya”, balasnya.
Sepuluh menit berikutnya kuhabiskan untuk berjalan-jalan, melihat berbagai barang yang berjejer di etalase.
10 menit berlalu, Si Alif kembali berdering
”Pake jilbab warna apa ?” tanyanya.
Wah, berarti ia sudah ada disekitar sini. Aku melihat sekeliling mencari dan mereka-reka sosok yang hendak kutemui.
Beberapa langkah didepanku, terlihat seseorang yang tampak kebingungan dan seperti mencari sesuatu dengan menggenggam handphone ditangannya.
Diakah ??? tanyaku pada diri sendiri.
Ah, sepertinya bukan. Tidak mirip dengan sketsa yang kuterima beberapa masa yang lalu. Aku mulai kembali mencari, hingga akhirnya tertangkap di mataku sosok yang tengah menuruni tangga. Senyumku mengembang.
Itu dia !!!
Segera kusongsong dia.
Dari senyum yang dialamatkan kepadaku, sepertinya diapun sudah bisa menebak, bahwa akulah orang yang dicarinya. Kujabat tangannya, sebuah rengkuh persaudaraan yang begitu indah.
Agak sedikit tak percaya, tapi semua nyata.
Sang waktupun berlalu, dalam kisah kami yang terus mengalir, sahut menyahut, sambil sesekali ditingkahi derai tawa.
Akhirnya ... Allahpun berkenan mempertemukan kami.

Berawal dari sebuah tulisan yang kutoreh. Itulah awal pertama ia mengenalku. Sejak itu, Silaturrahimpun terjalin lewat surat elektronik, sms dan sesekali bertukar hadiah.
Dan tahun ini ... akupun tak menyangka akan dapat bertemu muka dengannya sejak 5 tahun persahabatan kami. Demikianlah Allah berkehendak.

Ia mengeluarkan sebuah binder kecil berwarna hijau.
“Masih ingat ini ???” tanyanya.
Kuamati benda kecil itu.
“Itu ... ”
“Iya”.
Ya Allah ..., binder kecil itu, yang dulu kutitipkan untuknya, ternyata masih ada.
“Ada fotonya juga”
Aku mendekat. Bener, ada fotoku juga. Aku sendiri bahkan sudah lupa bahwa aku pernah memberi benda kecil itu. Jadi malu.

Waktu 60 menit terasa begitu singkat. Namun kesan yang tercipta begitu mendalam.
Kupandang undangan cantik warna hijau yang diberikannya di awal perjumpaan kami. Seuntai doa terhulur, mengharap keberkahan dan kebahagiaan bagi sahabatku.

: Chika
Barakallahulaka wabaraka ’alaika wajama’a bainakuma fii khoir
Terima kasih atas ukhuwahnya
Luv

Wednesday, June 11, 2008

Keluarga kecilku ^_^

Hari ini kugembira
Melangkah di udara
Alif membawa berita
Dari yang kudamba

Seuntai kata yang manis
Yang menyejukkan hati
Bagai bingkisan yang indah
Tak sabar kujelang

Satu dua dan tiga
Kumulai melangkah
Keluarga kecilku yang kudamba
Membikin hatiku berbunga
Seperti melodi yang indah
Satu tanda cintaNya
padaku

Lagunya 'Surat Cinta'nya Vina yang dah diotak-atik liriknya


Hmmm ... akhirnya hari ini tiba juga. Setelah sekitar 3 bulan menunggu, berita bahagia itu sampai juga di telinga saya. Semua berkat do’a saudara-saudara saya juga yang begitu peduli dan tak lelah memantau perkembangan saya, hingga setiap kali ada kesempatan ketemu, baik secara langsung, lewat telpon, sms, maupun OL, satu hal yang tak lupa mereka tanyakan adalah, “Gimana, sudah dapat keluarga kecil belum ???”
Berkali-kali saya harus menjawab “Belum”.
“Lha kok bisa ???” tanya mereka selanjutnya.
Ya gimana lagi, saya juga bingung kok lama sekali. Padahal hampir tiap minggu saya menanyakan nasib saya, tapi jawabannya, yah begitulah...
Hfff, Lagi-lagi terkena imbas dari yang namanya birokrasi. Ternyata ga di dalam ga diluar, birokrasi tuh bikin lama. Padahal temen saya yang ga pake pengantar aja bisa langsung dapet dalam waktu kurang dari 2 minggu !!! Coba ?!
Yah mungkin memang sudah jatah saya kali ya... Paling nggak 3 bulan ini jadi latihan untuk menguji setangguh apa saya bisa mendidik diri (Tarbiyah dzatiyah). Hasilnya ??? ternyata masih 60-40. Waahh kalo begini terus, bisa kacau nih.
“udah, pokoknya telpon terus”, saran temen saya.
Beneran. Dengan sedikit melakukan teror, akhirnya 4 hari yang lalu berita gembira itu saya terima.
“Sore ini jam 4 ya ..”
Alhamdulillah ...
Agak cemas juga sih sebenarnya. Khawatir akan menghadapi situasi yang di luar perkiraan. Sepanjang jalan tak henti berdo’a, semoga saya bisa diterima dengan baik, dan keluarga kecil saya yang baru bisa menjadi tempat kembali yang nyaman bagi jiwa dan hati saya.
Dan ... Subhanallah ... Ada kerinduan dan kesejukan yang tak terkatakan saat berada di tengah-tengah mereka. Hiks ... rasanya jadi terharu T_T.
Satu yang baru saya sadari, ternyata saya sungguh merindukan suasana dan saat-saat seperti ini.
Alhamdulillah ...
Terima kasih Allah ...

Faathir as Samaawaati wal Ardhi, Anta waliyyi Fiddunya wal Aakhirat.
Tawaffanii musliman wa alhiqni bi ashshoolihiin
Wa alhiqni bi ashsholihiin