"Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Duduk sini nak dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri"
Iwan Fals ( Album Sugali 1984 )
Denger lagu itu dari seorang pengamen pas balik kemarin, membuatku sedikit tercenung. Kalau aku laki-laki, aku akan lebih tercenung. Meski liriknya sederhana, tapi maknanya cukup dalam dan menohok. Khas punya Iwan Fals.
Jadi keinget ma adik dan sepupu-sepupuku yang tengah berpetualang mencari diri mereka.
Tuk Inung,Ical(yang kemarin genap 13th),Ko,Mam,Pan,Aji,Yun,Del
segera temukan dirimu. Engkau lelaki, kelak sendiri.
Mimpiku ...
Menjadi apa adanya diriku ... Memberi yang terbaik dan terindah Tuk mereka yang tercinta
Friday, April 11, 2008
Hati seorang Ayah
Aku tersenyum saat wajah yang mulai keriput itu terlihat kagum pada angkutan yang baru sekali ini dinaikinya. Pada pramudinya yang rapi jali memakai peci (kadang bertopi), berjas dan berdasi. Pada penjaganya yang nampak gagah berseragam, pada bening suara mesin operator otomatis yang selalu bergema di setiap perhentian.
Aku ingat sekali, ia, pemilik wajah itu, hari ini telah melakukan banyak hal untukku.
Mulai dari membangunkanku di pagi buta, bolak-balik meninjauku untuk sekedar memastikan bahwa aku telah bersiap-siap, menyiapkan sepatuku (hingga saat akan berangkat, sepasang sepatu telah menyambutku di depan pintu), mengantarkanku sampai tujuan, menungguiku dari pagi hingga petang, membantuku mengemasi dan merapikan barang-barang, berjaga penuh di belakangku selama perjalanan, hingga menawarkan semangkok bakso sebagai penawar lelah.
Terkesan manja dan kekanakan ???
Akupun merasa begitu. Tidak nyaman rasanya diperlakukan seperti anak kecil. Ingin sekali kuberkata ”Bapak, saya sudah besar, sudah bisa melakukan semuanya sendiri”.
Tapi aku tak tega mengatakannya. Kupikir kalimat itu hanya kan membuatnya kecewa dan merasa tidak dibutuhkan. Karena itu, sepanjang hari itu, aku berusaha sekuat tenaga menahan ego diriku yang berteriak-teriak minta diakui kedewasaannya.
Sisi hatiku mencoba menenangkan,
”Untuk kali ini, mengalahlah. Mungkin kau memang bisa melakukan semua hal itu sendiri. Bapakpun tahu itu, tapi beliau tetap melakukannya untukmu. Bukan karena menganggapmu tidak bisa, sama sekali bukan. Tapi lebih kepada panggilan hati seorang ayah yang ingin sekali berbuat sesuatu untuk anaknya. Kaupun harus tahu, bahwa apa yang beliau lakukan untukmu, sekecil apapun itu, adalah hal terbaik yang diberikan seorang ayah kepada anaknya. Kau boleh merasa diri telah dewasa, tapi bagi orang tua, anak tetaplah kanak-kanak. Jadi, pahamilah ...”
Hatiku berceramah panjang lebar.
Akupun mengalah. Untuk hari itu, tak masalah dianggap anak kecil, jika itu memang berarti bagi Bapak.
Dan hari itu, aku belajar, bahwa bagi Bapak, mungkin aku tak pernah menjadi besar. Aku tetaplah putri kecilnya seperti 23 tahun lalu saat aku dilahirkan. Putri kecil yang dulu ditimang dan dininabobo’kannya. Putri kecil yang ingin selalu dijaga dan dilindunginya.
Luv u Dad T_T
Aku ingat sekali, ia, pemilik wajah itu, hari ini telah melakukan banyak hal untukku.
Mulai dari membangunkanku di pagi buta, bolak-balik meninjauku untuk sekedar memastikan bahwa aku telah bersiap-siap, menyiapkan sepatuku (hingga saat akan berangkat, sepasang sepatu telah menyambutku di depan pintu), mengantarkanku sampai tujuan, menungguiku dari pagi hingga petang, membantuku mengemasi dan merapikan barang-barang, berjaga penuh di belakangku selama perjalanan, hingga menawarkan semangkok bakso sebagai penawar lelah.
Terkesan manja dan kekanakan ???
Akupun merasa begitu. Tidak nyaman rasanya diperlakukan seperti anak kecil. Ingin sekali kuberkata ”Bapak, saya sudah besar, sudah bisa melakukan semuanya sendiri”.
Tapi aku tak tega mengatakannya. Kupikir kalimat itu hanya kan membuatnya kecewa dan merasa tidak dibutuhkan. Karena itu, sepanjang hari itu, aku berusaha sekuat tenaga menahan ego diriku yang berteriak-teriak minta diakui kedewasaannya.
Sisi hatiku mencoba menenangkan,
”Untuk kali ini, mengalahlah. Mungkin kau memang bisa melakukan semua hal itu sendiri. Bapakpun tahu itu, tapi beliau tetap melakukannya untukmu. Bukan karena menganggapmu tidak bisa, sama sekali bukan. Tapi lebih kepada panggilan hati seorang ayah yang ingin sekali berbuat sesuatu untuk anaknya. Kaupun harus tahu, bahwa apa yang beliau lakukan untukmu, sekecil apapun itu, adalah hal terbaik yang diberikan seorang ayah kepada anaknya. Kau boleh merasa diri telah dewasa, tapi bagi orang tua, anak tetaplah kanak-kanak. Jadi, pahamilah ...”
Hatiku berceramah panjang lebar.
Akupun mengalah. Untuk hari itu, tak masalah dianggap anak kecil, jika itu memang berarti bagi Bapak.
Dan hari itu, aku belajar, bahwa bagi Bapak, mungkin aku tak pernah menjadi besar. Aku tetaplah putri kecilnya seperti 23 tahun lalu saat aku dilahirkan. Putri kecil yang dulu ditimang dan dininabobo’kannya. Putri kecil yang ingin selalu dijaga dan dilindunginya.
Luv u Dad T_T
Tuesday, March 25, 2008
Pak Dirman&NBJ2
Melihat sosok Panglima Besar Jendral Sudirman yang dalam posisi hormat itu membuat saya teringat pada satu scene dalam NBJ2 yang saya sukai (selain aransemen Lagu a ”Syukur”nya yang syahdu)
Satu adegan, saat Naga Bonar berteriak-teriak setengah putus asa, pada patung yang berdiri kokoh di tengah hiruk pikuknya kota.
”Turunkan tanganmu Jendral !!! Tidak semua dari mereka yang disana, pantas untuk kau hormati !!!”
Begitu kira-kira dialognya.
Melihat film itu, seketika mengingatkan saya, pada para pahlawan kemerdekaan yang, jujur saja, sempat saya lupakan.
Dalam hati saya bergumam,
”iya ... ya, kita kan juga punya pahlawan yang bisa dibanggakan. Kok bisa lupa sih ?”
Yah, mungkin karena sehari-hari disuguhi tayangan-tayangan yang menunjukkan kesemrawutan moral bangsa ini, sehingga melupakan, bahwa negeri inipun memiliki anak-anak bangsa yang luar biasa dan patut dibanggakan.
Mereka yang begitu jujur, berjuang dengan tulus tanpa mengharap imbalan apapun.
Semoga kan terlahir kembali Pak Dirman -Pak Dirman baru, yang tulus berjuang dan tetap bersahaja.
Satu adegan, saat Naga Bonar berteriak-teriak setengah putus asa, pada patung yang berdiri kokoh di tengah hiruk pikuknya kota.
”Turunkan tanganmu Jendral !!! Tidak semua dari mereka yang disana, pantas untuk kau hormati !!!”
Begitu kira-kira dialognya.
Melihat film itu, seketika mengingatkan saya, pada para pahlawan kemerdekaan yang, jujur saja, sempat saya lupakan.
Dalam hati saya bergumam,
”iya ... ya, kita kan juga punya pahlawan yang bisa dibanggakan. Kok bisa lupa sih ?”
Yah, mungkin karena sehari-hari disuguhi tayangan-tayangan yang menunjukkan kesemrawutan moral bangsa ini, sehingga melupakan, bahwa negeri inipun memiliki anak-anak bangsa yang luar biasa dan patut dibanggakan.
Mereka yang begitu jujur, berjuang dengan tulus tanpa mengharap imbalan apapun.
Semoga kan terlahir kembali Pak Dirman -Pak Dirman baru, yang tulus berjuang dan tetap bersahaja.
Sunday, March 16, 2008
Alif
Alif ...
Beberapa waktu terakhir ini, ia jadi sedikit menjengkelkan. Tiap kali ada yang menyapanya, ia langsung berteriak dengan nada khasnya, dan akhirnya ... pet, tak mau lagi membuka matanya kecuali kembali di On kan.
Hfff, kadang pengen tak banting rasanya, tapi kok ya nggak tega. Kalo pas lagi ada yang penting untuk segera disampaikan, lalu dia ngambek kayak gitu kan repot juga. Mana Loadingnya lama banget lagi.
Mungkin sudah saatnya diganti kali ya ... Nggak terasa sudah hampir 4 tahun ia menjadi bagian hidupku, tepatnya sejak Juni 2004. Kondisinya memang memprihatinkan, jika tak ingin dibilang mengenaskan. Performancenya, wah ga bisa diceritakan deh, retak disana-sini, tombol dah ga jelas, ya gitu deh, namanya juga HaPe antik. Dah ga ada yang jual tuh. Tapi apapun kondisinya, dia tetap the best buatku, meski ya itu tadi, sedikit menjengkelkan (soale aku mung duwe kuwi je, piye maneh). Lagian menggantinya tak semudah membalik telapak tangan.
Untuk saat ini bersabar dulu lah dengan kondisinya.
Bulan depan moga dah gajian, he ...
Beberapa waktu terakhir ini, ia jadi sedikit menjengkelkan. Tiap kali ada yang menyapanya, ia langsung berteriak dengan nada khasnya, dan akhirnya ... pet, tak mau lagi membuka matanya kecuali kembali di On kan.
Hfff, kadang pengen tak banting rasanya, tapi kok ya nggak tega. Kalo pas lagi ada yang penting untuk segera disampaikan, lalu dia ngambek kayak gitu kan repot juga. Mana Loadingnya lama banget lagi.
Mungkin sudah saatnya diganti kali ya ... Nggak terasa sudah hampir 4 tahun ia menjadi bagian hidupku, tepatnya sejak Juni 2004. Kondisinya memang memprihatinkan, jika tak ingin dibilang mengenaskan. Performancenya, wah ga bisa diceritakan deh, retak disana-sini, tombol dah ga jelas, ya gitu deh, namanya juga HaPe antik. Dah ga ada yang jual tuh. Tapi apapun kondisinya, dia tetap the best buatku, meski ya itu tadi, sedikit menjengkelkan (soale aku mung duwe kuwi je, piye maneh). Lagian menggantinya tak semudah membalik telapak tangan.
Untuk saat ini bersabar dulu lah dengan kondisinya.
Bulan depan moga dah gajian, he ...
Puzzle
Episode-episode hidup kita ibarat puzzle yang terserak. Selintas terkesan tak beraturan dan tak berhubungan. Namun sejatinya, semua saling terkait dalam sebuah pola yang begitu indah. Dan saat kita bisa menyusun puzzle-puzzle itu dengan tepat sesuai posisinya, akan kita temukan sebuah karya yang begitu sempurna dan luar biasa. Maha karya agung dari Sang Maha Agung.
Saat itulah kita bisa menarik benang merah dari setiap kejadian yang kita alami. Dan sebagian misteri hidup yang tersusun dalam deretan pertanyaan "mengapa ?" pun (Mengapa harus berada disini, mengapa harus mengalami ini, mengapa harus bertemu ini, mengapa harus begini, mengapa harus begitu, mengapa ..., mengapa ..., dst), akan terpecahkan.
Yang pasti, ketika Allah menetapkan suatu manzilah bagi kita, itu bukan suatu kebetulan dan tanpa alasan. Tapi ada hal yang ingin Allah sampaikan pada kita, ada sesuatu yang ingin Allah ajarkan pada kita, yang nantinya akan bermanfaat bagi masa depan kita, karena apa yang kita alami saat ini tak kan lepas dari apa yang akan kita alami esok hari.
Jadi, jalani saat ini dengan sebaik-baiknya, dan ambil hikmah sebanyak-banyaknya, sebagai bekal bagi hidup kita di kemudian hari
Saat itulah kita bisa menarik benang merah dari setiap kejadian yang kita alami. Dan sebagian misteri hidup yang tersusun dalam deretan pertanyaan "mengapa ?" pun (Mengapa harus berada disini, mengapa harus mengalami ini, mengapa harus bertemu ini, mengapa harus begini, mengapa harus begitu, mengapa ..., mengapa ..., dst), akan terpecahkan.
Yang pasti, ketika Allah menetapkan suatu manzilah bagi kita, itu bukan suatu kebetulan dan tanpa alasan. Tapi ada hal yang ingin Allah sampaikan pada kita, ada sesuatu yang ingin Allah ajarkan pada kita, yang nantinya akan bermanfaat bagi masa depan kita, karena apa yang kita alami saat ini tak kan lepas dari apa yang akan kita alami esok hari.
Jadi, jalani saat ini dengan sebaik-baiknya, dan ambil hikmah sebanyak-banyaknya, sebagai bekal bagi hidup kita di kemudian hari
Edensor
Membaca Bab pertama dari buku ketiga tetralogi Andrea, membuat keningku berkerut.Pasalnya, di bab pertama buku yang baru kubeli sewaktu Bookfair kemarin itu, banyak kata-kata yang tak kupahami artinya, mulai dari zenit, nadir, menibar, terampang, gerinda, lor, harpun, tempuling de el el, bahkan dari kalimat judul bab nya aja udah nggak dong. Kerasa banget kurangnya perbendaharaan bahasa Indonesiaku. Imbasnya, membacanya jadi terasa lebih lama dari dua buku sebelumnya, karena kadang harus mengeja tiap katanya atau mengulang-ulang kalimatnya demi bisa mendapatkan visualisasi yang jelas dari apa yang dikisahkan dan meraba makna yang ingin disampaikan.
Kenapa ya ... ?
Apa karena membacanya pas dalam kondisi lelah ? Bisa jadi.
Tapi itu baru bab pertama kok, bab-bab selanjutnya lumayan lancar. Dan seperti biasa, buku ini mampu membuatku tergugu haru, tersenyum geli, hingga tertawa terpingkal-pingkal.
Dari ketiga buku yang telah terbit, yang paling berkesan tetap buku pertama. Buku yang dinobatkan sebagai Indonesia's Most Powerful Book ini (Sesuai yang tertera di sampulnya) memang menginspirasi. Buku yang membuat saya merasa bahwa tak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri hidup, dan segala apa yang telah diamanahkan pada kita.
Kenapa ya ... ?
Apa karena membacanya pas dalam kondisi lelah ? Bisa jadi.
Tapi itu baru bab pertama kok, bab-bab selanjutnya lumayan lancar. Dan seperti biasa, buku ini mampu membuatku tergugu haru, tersenyum geli, hingga tertawa terpingkal-pingkal.
Dari ketiga buku yang telah terbit, yang paling berkesan tetap buku pertama. Buku yang dinobatkan sebagai Indonesia's Most Powerful Book ini (Sesuai yang tertera di sampulnya) memang menginspirasi. Buku yang membuat saya merasa bahwa tak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri hidup, dan segala apa yang telah diamanahkan pada kita.
Positive Thinking
Dulu, saat ada pembekalan untuk SPMB, saya dikenalkan dengan adanya Hukum Pikiran, yang intinya bahwa ketika kita berpikir bahwa kita bisa, maka seluruh organ di dalam tubuh kita akan merespon pikiran itu dan akhirnya kita benar-benar bisa melakukannya.
Bahasa kerennya sih “You can if you think you can”.
Beberapa waktu lalu, saya dapat pelajaran tentang hukum pikiran ini.
Ternyata, saat kita berpikir negatif atau berprasangka buruk pada seseorang, maka pikiran tersebut secara tidak sadar akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Akhirnya, kita tanpa sadar jadi menjaga jarak dan menciptakan sekat dengan orang tersebut. Sehingga yang tadinya fine-fine aja, malah terjebak dalam situasi yang kurang nyaman.
Padahal, bisa saja, pikiran negatif itu muncul dari pengamatan yang cukup singkat, artinya kita belum kenal siapa dia sebenarnya, dan nggak ngerti apa-apa tentang dia. Tapi karena keburu menyimpulkan dari hal yang sekilas tadi, akhirnya malah merenggangkan hubungan bahkan sebelum hubungan itu terjalin.
Sayang sekali bukan. Padahal seharusnya, jika kita mau untuk sedikit berpikir positif, bukan tidak mungkin, dia bisa menjadi orang yang dekat dengan kita atau bahkan sahabat kita. Yah, paling nggak, sodara kita akan bertambah satu lagi.
So, nggak ada ruginya untuk membiasakan selalu berpikir positif. Lagipula, keseringan berpikir negatif, bakalan bikin kita susah sendiri, udah makan ati, lama-lama bisa stress.
Satu lagi, salah satu rahasia untuk bisa menikmati hidup adalah selalu tersenyum dan berpikir positif dalam setiap kondisi.
Selamat menikmati warna warni hidup !!!
^_^
Bahasa kerennya sih “You can if you think you can”.
Beberapa waktu lalu, saya dapat pelajaran tentang hukum pikiran ini.
Ternyata, saat kita berpikir negatif atau berprasangka buruk pada seseorang, maka pikiran tersebut secara tidak sadar akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Akhirnya, kita tanpa sadar jadi menjaga jarak dan menciptakan sekat dengan orang tersebut. Sehingga yang tadinya fine-fine aja, malah terjebak dalam situasi yang kurang nyaman.
Padahal, bisa saja, pikiran negatif itu muncul dari pengamatan yang cukup singkat, artinya kita belum kenal siapa dia sebenarnya, dan nggak ngerti apa-apa tentang dia. Tapi karena keburu menyimpulkan dari hal yang sekilas tadi, akhirnya malah merenggangkan hubungan bahkan sebelum hubungan itu terjalin.
Sayang sekali bukan. Padahal seharusnya, jika kita mau untuk sedikit berpikir positif, bukan tidak mungkin, dia bisa menjadi orang yang dekat dengan kita atau bahkan sahabat kita. Yah, paling nggak, sodara kita akan bertambah satu lagi.
So, nggak ada ruginya untuk membiasakan selalu berpikir positif. Lagipula, keseringan berpikir negatif, bakalan bikin kita susah sendiri, udah makan ati, lama-lama bisa stress.
Satu lagi, salah satu rahasia untuk bisa menikmati hidup adalah selalu tersenyum dan berpikir positif dalam setiap kondisi.
Selamat menikmati warna warni hidup !!!
^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)