Mimpiku ...

Menjadi apa adanya diriku ... Memberi yang terbaik dan terindah Tuk mereka yang tercinta

Friday, November 09, 2007

Pareto, Al Hasyr : 7 dan zakat.

Pada sebuah sesi kuliah, pas jaman masih kuliah dulu (halah), sekelompok adik angkatan mempresentasikan tentang distribusi Pareto.
Siapa sih Pareto itu ?
Ini nih penjelasannya.
Vilfredo Pareto adalah seorang ekonom asal Italia yang menemukan Prinsip Pareto atau juga dikenal dengan Aturan 80 : 20.
Pada awalnya ia meneliti tentang hubungan antara pendapatan dan kekayaan. Dari penelitian tersebut ia dapat menyimpulkan bahwa 80% kekayaan di Italia hanya dimiliki oleh 20% dari total populasi penduduknya. Ternyata hal itu tidak hanya berlaku di Italia, tapi juga di berbagai negara lainnya. Dan ternyatanya lagi, aturan 80:20 ini tidak saja berlaku pada bidang ekonomi, tapi juga pada hal lain. Misalnya saja kita hanya menggunakan 20% dari keseluruhan pakaian kita pada 80% waktu yang kita miliki, atau 80% transaksi penjualan yang terjadi dilakukan oleh 20% dari keseluruhan klien, dsb.
Saya jadi tercenung mendengar penjelasan itu. Terbayang berbagai kesenjangan dan ketimpangan yang terjadi selama ini.
Ternyata bener juga ya ... Jadi kalau menurut Prinsip Pareto, 80% kekayaan yang ada di Indonesia hanya dimiliki oleh 20% saja dari seluruh populasi penduduk Indonesia. Ck ck ck, pantesan yang kaya ya kayaaa banget, sedang yang miskin jadi miskiiinnn banget.
Tiba-tiba teringat penggalan Qur'an surat Al Hasyr ayat 7
" ... kayLaa yakuuna duulatan bainal aghniyaa i minkum ..."
"supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu".
Hmmm, bahkan Al Qur'an sejak jauh-jauh abad sudah mengingatkan akan terjadinya fenomena ini. SubhanaLLah ... itulah salah satu mu'jizat Al Qur'an.
Dan ternyata, ga hanya sampai di peringatan, tapi islam juga memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi, yaitu dengan memberlakukan kewajiban berzakat bagi umat Islam yang mampu.
Sungguh suatu sistem hidup yang menyeluruh dan sempurna.
Hanya sayangnya, masih ada, bahkan banyak pemeluk-pemeluknya yang belum benar-benar menjadikan Islam sebagai pedoman hidup dan belum menerapkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk perintah zakat tersebut. Jadinya timbullah fenomena 80 : 20 tadi.
Saya pernah dapat cerita dari seorang ustadz, tentang seorang pengusaha yang meminta tolong pada sebuah lembaga pengumpulan zakat untuk menghitung berapa rupiah zakat maal yang harus ia bayarkan. Ternyata setelah dihitung, zakat maal yang harus dibayarkan oleh pengusaha itu sebesar ratusan juta rupiah (saya lupa tepatnya berapa). Bayangkan, berapa total kekayaan pengusaha tersebut, wong 2,5 %nya saja mencapai ratusan juta rupiah.
Itu hanya dari satu orang pengusaha saja, sedangkan di Indonesia ini kan banyak sekali pengusaha yang saya yakin kondisi kekayaannya tak jauh beda bahkan lebih dari pengusaha tadi.
Hfff, seandainya seluruh muslim sadar akan kewajiban zakat ini, akan ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membenahi kesenjangan yang terjadi.
Yah, bisa diawali dari diri sendiri. Meskipun jumlah harta kita belum masuk nishab, ga ada salahnya menyisihkan 2,5% dari jatah bulanan yang didapat untuk mereka yang membutuhkan.
Sepakat ?!

Saturday, November 03, 2007

Oktober di 2007

Idul Fitri (12/13 Oktober)
TAqabbalaLahu minna wa minkum, Mohon maaf atas segala salah dan khilaf
Berita-berita kecelakaan selama mudik lebaran menghiasi televisi..
Seolah berpesan "Sing Padha ngAti-ati olehe numpak kendaraan "
Ba'da lebaran, tiba-tiba aja gunung-gunung api menjadi aktif. Ada G. Kelud di Jawa Timur dan G. Anak Krakatau. Sampai tulisan ini dibuat (Halah), masih dalam status Awas !
Aliran-aliran Islam baru bermunculan. Kayak jamur di musim ujan aja.
Jadi inget pepatah Jawa
"Sak begja-begjane wong kang ..... (lupa, he ..), isih luwih begja wong kang ELING lan WASPADA".
Tingkatkan kewaspadaan.
Pesan BAng NApi,
Waspadalah ... Waspadalah ... Waspadalah ... !!!

Saturday, October 20, 2007

AIDS

Si Ade berencana donor darah bagi paman yang HB-nya ngedrop untuk kesekian kalinya.
Pas diperiksa tekanan darah, ia ditanya oleh ibu perawat,
"Sakit apa Mas ?"
"AIDS, Bu", jawabnya kalem.
Kontan, si ibu perawat kaget bukan main, sampe berpegangan ke tiang di sebelahnya.
"Saya serius lho, Mas",
"Saya juga serius Bu. Maksud saya Atuk Ilek Dan Sebagainya".
"Walah ..., Masnya ini kok ya bercanda. Tak kirain beneran, Je".
Hehe...

Kuda

Saudara saya suatu ketika menjadi panitia sebuah pesantren anak. Sebagai panitia dan kakak pembimbing, tentunya harus memberikan contoh yang baik dan selalu mengingatkan jika ada peserta yang melakukan tindakan yang tidak baik. Seperti misalnya jika ada santri yang makan sambil berjalan atau berlari, maka ia akan diingatkan.
"Hayoo, makannya nggak sambil berjalan ya, nanti kayak sapi lho",
atau
"Kalo makan tidak boleh sambil lari-lari, jadi kayak kuda lho nanti".
Nah, yang namanya manusia, ada saatnya melakukan kekhilafan.
Lalu, tibalah saat itu, ^_^
Pas latihan manasik haji ke pantai, para panitia yang rata-rata ABG, kok ya iseng lari-larian sambil berebut makanan. Tak terkecuali saudara saya tadi.
Setelah capek lari-lari, istirahatlah ia bersandar di mobil dalam keadaan berdiri sambil menikmati makanan hasil rampasan perang tadi.
Lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba ada yang nyeletuk,
"eh ... ada kuda"
Doeng ... kena deh.
Ternyata yang nyeletuk adalah salah seorang santri yang pernah diperingatkan karena makan sambil jalan.
Saudara saya cuman nyengir, kemudian mengucapkan terima kasih, dan kembali menikmati makanannya. Kali ini sambil duduk manis.

Sunday, September 30, 2007

September di 2007

Go Home ...
Ada senengnya, ada sedihnya juga. Eniwei, moga ini yang terbaik.
Persiapan Ramadhan, Semangat... Semangat ...
Jadikan Ramadhan kali ini sebagai tonggak awal perubahan kita menuju pribadi yang lebih baik dan hamba yang sebenar. coz sapa tahu ini adalah Ramadhan terakhir kita (baik dalam hal usia atau mungkin dalam hal status :D).
Bulan ini, jadi akrab dengan Rumah sakit. Jadi teringat akan nikmat sehat dan nikmat usia yang tak ternilai harganya

Monday, September 24, 2007

Judule maa syi'tum (:p)

Hfffh, setelah menempuh 1 jam perjalanan darat, akhirnya sampai juga di warnet ini. Yah gimana lagi, wong ini juga yang paling deket. Lagian jaman sekarang semua-mua serba internet. Jadi mau tidak mau harus sering-sering nengok warnet kalo ga mau ketinggalan info. Padahal yang namanya peluang tuh, ga datang dua kali. Sekalinya terlambat, ilang deh kesempatan. Tapi kalo memang belum rizki ya ga bakalan dapet ding.
Peruntungan orang mah beda-beda, yang penting usaha dulu.
Tidaklah sama orang yang berusaha dan tidak berusaha.
Memang kalo udah ngerasa bahwa usahanya belum sungguh-sungguh, mo minta sama Gusti Allahpun rasanya rikuh, seperti meminta hak sebelum melaksanakan kewajiban. Nggak enak banget. Tapi kalo dah usaha sungguh-sungguh, rasane ki wis plong, puas ... puas ... hehe.
Meskipun belum tentu juga proposal kita di ACC ma Allah. Bahkan kadang masalah hasil ini nggak terlalu dipikirkan, ndherek kersane Gusti Allah mawon.
Sing penting tetep usaha. semangat !!! semangat !!!

Bismillah ...

Sunday, September 02, 2007

Napak tilas

Kemarin malam habis berbincang dengan teman yang baru selesai KKN. Ternyata memang ada kesamaan rasa. Entah apakah suatu kebetulan, atau ini juga dialami oleh yang lainnya. KKN memang pengalaman yang berkesan, tapi pada akhirnya memunculkan sebersit sesal dan rasa bersalah. Yah, penyesalan memang selalu datang terlambat.
Bahkan saya menyadarinya baru 6 bulan setelah penarikan.
Berawal ketika saya mengadakan kunjungan non formal ke tempat pengabdian saya selama 1,5 bulan itu (Walah bahasane jan elok tenan ^_^). Awalnya sih biasa saja. Terkagum-kagum melihat masjid bercat ungu hasil rancangan seorang teman saya yang tlah berubah dari sekedar sketsa, menjadi sebuah bangunan yang indah. Mengunjungi markas tempat kami berkoordinasi dan menyusun strategi yang kini tak lagi berpenghuni. Melewati rumah-rumah warga yang, ahamdulillah, kini sudah berdiri kokoh.
Tiba-tiba saya merasa ada yang kurang. Kosong, hampa. Selama perjalanan pulang saya mencari-cari apa yang saya rasa kurang. Dan hasilnya tetap saja tanpa hasil. Ini yang kemudian membuat saya semakin sedih.
Jejak kami. Ya ... jejak kami selama 1,5 bulan, tak ada lagi disana.
Sehingga rasanya seolah-olah kami tak pernah ada disana.
Saya mulai bertanya, “kenapa ?”
Lalu muncullah alasan-alasan, pengandaian dan pengharusan yang sepertinya memang tak lagi diperlukan kini.
Pertama, mungkin karena waktu itu kami tidak terlalu fokus. Konsentrasi terpecah karena waktu itu pelaksanaan KKN berbarengan dengan ujian akhir kampus. Pembagian shift, 2 on 1 off pun turut andil dalam memecah konsentrasi.
Kedua, pengetahuan yang minim tentang medan, sehingga sempat mengalami masa ‘blank’ di awal-awal. Perlu adaptasi dengan lingkungan dan warga sekitar sebelum akhirnya ‘ngeh’ dengan apa yang harus dilakukan. Itupun perlu waktu yang tidak sebentar. Idealnya memang dilakukan survey dulu mengenai segala sesuatunya sebelum terjun langsung ke lapangan, sehingga ketika turun gunung, kita tahu apa akan dihadapi, apa yang akan dilakukan, dan persiapanpun akan dilakukan lebih matang. Mungkin karena kondisi waktu itu memang kejadian luar biasa, sehingga KKN-nyapun menjadi luar biasa pula, bahkan terkesan dadakan, akhirnya ya tak sempat dilakukan survey yang bener-bener survey.
Ketiga, kurangnya koordinasi, baik internal maupun eksternal. Ini sangat berpengaruh pada gerak yang dilakukan. Akhirnya serasa jalan sendiri-sendiri. Yang satu menuju ke satu titik, yang lain menyebar ke berbagai pelosok. Coba kalo dari awal ada sebuah koordinasi yang matang, menyamakan frekuensi dan menyeragamkan alur berpikir, menentukan tujuan dan sasaran, merumuskan arah geraknya seperti apa dan sebagainya dan sebagainya. Itu idealnya. Tapi lagi-lagi dibenturkan dengan kondisi yang tidak mendukung. Terpecahnya konsentrasi, sistem shift-shift-an yang diterapkan, juga kurangnya pengenalan medan. Akhirnya kerja-kerja kami jadi tidak optimal. Padahal sebenarnya kami punya SDA yang cukup memadai dengan kapasitas masing-masingnya tak lagi diragukan. (Ini baru saya sadari justru setelah KKN. Ternyata teman-teman saya orang-orang yang luar biasa dan bukan sekedar orang biasa. Mereka ahli di bidang dan dunianya masing-masing, dari ujung kanan hingga ujung kiri. Hmm ... ternyata ...).
Yah ... begitulah.
Terdengar seperti menyalahkan ya ? Mohon maaf sekali jika terasa seperti itu. Tapi maksud saya nggak begitu kok. Saya hanya terpikir, bahwa dengan apa yang ada pada kami saat itu, seharusnya kami bisa melakukan lebih dari apa yang telah kami lakukan. Sehingga paling tidak, ada jejak yang kami tinggalkan.
Rasanya jadi sayang sekali. Terasa bersalah dan menyesal.
Yah tapi semuanya sudah terjadi. Menyesal seperti apapun tak kan mampu mengubah apapun.
Namun bagaimanapun, saya tetap bangga dengan tim kami. Saya yakin, tim kami telah berusaha dengan segenap kemampuan dan telah memberikan apa yang kami mampu. Mungkin memang tak sempurna, karena memang sebatas itulah persembahan yang mampu kami haturkan.

Beberapa waktu kemudian, temen saya dapet sms dari warga sana.
"Makasih ya mbak, insya Allah bukunya bermanfaat bagi anak-anak".
Alhamdulillah. Yah mungkin bukan jejak fisik yang kami tinggal di sana. Bukan plang penunjuk arah bertuliskan KKN UGM 06, bukan pula sebuah tugu peringatan bahwa kami pernah mengabdi disana. Tapi insya Allah ada jejak batin yang telah kami buat dengan hati saudara-saudara kami disana. Semoga jejak itu takkan terhapus selamanya. Aamin.

Tulisannya dah basi banget kali yah ? lagian penting ga sih ???!!!
Yah, hanya sekedar pengen menumpahkan uneg-uneg saja.
Satu yang jadi catatan.
Kenyataan memang tak selalu ideal. Tapi dalam ketidakidealan yang ada, jangan pernah menyerah tuk berusaha mempersembahkan yang terbaik.



Teriring salam dan doa tuk teman-teman seperjuangan di Muruh ’06 dimanapun berada.
Kalian the Best deh.
Semoga dimudahkan skripsinya (buat yang lagi skripsi), dilapangkan rizkinya (yang lagi nyari kerja), diberkahi jodohnya (bagi yang dah mau dan mampu), dirahmati hidupnya di dunia dan di akhirat (untuk semuanya). Aamiin